The image was taken from Wikimedia

Finance ministers and governors of central banks from the country-members of the Group of Seven (G7) convened in Bonn, Germany, on 18-20 May 18-20, to discuss about variety of global economic and financial issues, including the collapse of major crypto asset LUNA, and the possibility of regulating crypto assets. 

Source:  investor.id 

Gambar diambil dari Wikimedia

Dalam berkoordinasi di dalam perusahaan atau organisasi, pernahkah Anda berulang kali menghadapi persoalan yang sama? Seakan hal tersebut merupakan tradisi yang harus selalu dialami? Bisa jadi permasalahannya terletak pada pola komunikasi yang kurang efektif.

Di episode Ála Podcast kali ini, tim Alaksir berbincang-bincang dengan praktisi komunikasi andal, Santi Djiwandono, tentang bagaimana pola komunikasi yang efektif dapat mendorong kinerja suatu organisasi. Yuk, kita simak obrolan seru mereka di sini.

This image was taken from Piqsels

Crypto asset trading is booming Indonesia, not only in terms of the number of investors and transaction value, but also in the number of brokerages or trading companies. By March 2022, it is recorded that there were 18 companies that had received license from the Commodity Futures Trading Authority (BAPPBETI), while last year, only 11 companies did so. Deputy Minister of Trade, Jerry Sambuaga, said the total transaction value of crypto assets in Indonesia has increased 14.5 percent from last year, with total investors reaching 12.4 million.

Source: Tribunnews.com, 2 Apr, 2022:

https://jogja.tribunnews.com/2022/04/02/investasi-aset-kripto-tumbuh-positif-kemendag-ri-nilai-transaksi-naik-145-persen-dibanding-2021

Gambar diambil dari Wikimedia

Berbicara mengenai komunikasi, tentu tidak terlepas dari interaksi dua arah atau yang dikenal dengan istilah “ngobrol”. Di episode perdana podcast Alaksir yang melaju dengan nama Àla Podcast, kami bersama dengan praktisi komunikasi yang sudah banyak makan asam garam, Santi Djiwandono berbicara mengenai komunikasi internal di dalam sebuah organisasi. 

Ingin tahu tentang pentingnya komunikasi internal di perusahaan Anda? Simak obrolan kami di https://anchor.fm/alaksir/episodes/Episode-1-e1e21la

Gambar diambil dari Ozpropertygroup

Saat ini para wirausahawan inovatif di seluruh dunia sedang mengembangkan konsep hunian co-living, sebuah konsep hunian yang dianggap dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan pertumbuhan populasi warga kota dan juga perasaan teralienasi yang sering dialami warga kota. Pandemi yang terjadi dua tahun belakangan ini telah menunjukkan apa yang terjadi jika kita kehilangan koneksi sosial kita. Banyak warga kota yang mengaku mengalami kesepian dan kecemasan karena tinggal sendirian dan tidak menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Secara sederhana, co-living dapat diartikan sebagai konsep tinggal di sebuah hunian bersama orang lain sebagai satu komunitas. Generasi terdahulu sudah memulainya dengan konsep indekos, asrama atau apartemen, yang memiliki fasilitas bersama seperti ruang dapur, ruang makan, ruang tamu, fasilitas kebugaran dan lainnya. Yang membedakannya adalah co-living membina dan membangun komunitasnya, mengubah cara hidup dengan berbagi ruang dan menjadikan interaksi sosial, kerekatan dan kebersamaan ini sebagai pengalaman hidup.

Tren co-living di seluruh dunia

Di London terdapat hunian bersama bernama The Collective, sebuah blok 11 lantai yang 500 lebih penghuninya membayar hingga £1.000 untuk kamar yang berisi tempat tidur dan kamar mandi, serta akses ke sejumlah fasilitas bersama seperti ruang kerja bersama, gym, spa, restoran, dan bioskop. Sedangkan New York memiliki hunian bersama bernama Common, yang diperuntukkan bagi warga kota yang “mencari cara yang nyaman, fleksibel dan terjangkau untuk menikmati hidup di komunitas perkotaan yang dinamis”. Di Norwegia terdapat konsep co-living What We Share yang mengklaim bahwa dengan ruang yang lebih sedikit dan berbagi peralatan seperti mesin cuci, mereka telah mengurangi jejak karbon dengan signifikan.

Banyaknya konsep hunian co-living yang dikembangkan di seluruh dunia membuktikan bahwa co-living tengah menjadi tren global yang diminati kaum millennial dan juga kalangan dari generasi lebih tua. Dengan menawarkan kehidupan yang lebih sederhana, lebih berkelanjutan dan lebih memiliki makna, para pengamat kota memprediksi hunian co-living akan terus berkembang dan bertambah banyak di masa depan.

Gambar diambil dari Piqsels

Pekerjaan di kantor yang suka bikin stres atau masalah keluarga yang terkadang bikin sakit kepala sering kali membuat seseorang tidak waras, atau bahasa kekiniannya ‘kena mental’. Punya teman yang humoris atau suka bercanda bisa menjadi hiburan karena biasanya kehadiran mereka saja sudah menyenangkan.

Tapi, bagaimana ya kalau kita ingin bicara serius sama mereka? Bagaimana caranya supaya mereka tahu kalau kita sedang tidak ingin diajak bercanda? Yuk, simak beberapa tips yang bisa kita lakukan agar sukses berbicara serius dengan mereka yang suka bercanda.

Dikutip dari Instagram post @santidjiwandonoinc_official, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah jangan lupa untuk menyampaikan konteks “seberapa serius” sebuah perbincangan. Terlalu biasa ngobrol santai dengan tidak pakai intro dan penekanan tertentu terkadang membuat kita tidak sadar bahwa yang ingin disampaikan adalah hal yang serius. Kalau sudah begini, jangan harap lawan bicara kita akan menanggapinya dengan serius. Oleh karena itu, sebaiknya memberikan intro terlebih dahulu yang memberitahukan bahwa kita ingin berbicara serius.

Yang kedua adalah komunikasi selalu memerlukan kejelasan. Jangan lupa dan jangan ragu untuk menyampaikan maksud kita dengan jelas, termasuk rasa keberatan terhadap sikap lawan bicara yang berlebihan bercandanya. Sering kali kita merasa tidak enak atau enggan menegur mereka karena tidak mau membuat situasi menjadi tidak enak. Tapi, hal ini penting dilakukan agar hal serius yang ingin kita bicarakan bisa tersampaikan dengan baik. Lihat reaksi mereka setelahnya. Kabar baik sekali jika mereka bisa berubah, tapi misalnya tetap sama saja, kita bisa move on atau atur strategi/pendekatan baru.

Itulah beberapa tips agar berhasil berkomunikasi serius dengan si humoris. Semoga bermanfaat dan jangan ragu diterapkan, ya!

Sumber: https://www.instagram.com/p/CNcrTfqpzFv/

 

 

The image was taken from vectorstock.

In accordance with Depok Regional Regulation No. 03/2014 on No Cigarette Areas (KTR), Head of the Regional Regulation Enforcement Division of Depok City Satpol PP, Taufiqurakhman said officers had monitored 54 retailers, 45 located in the Sukmajaya District area, and found 15 cigarette sellers had violated the laws. He added that 9 retailers were subject to administrative fines of Rp. 50 million for selling cigarettes, openly advertising them and placing cigarette displays close to products for minors such as milk, disposable diapers, and foods. He explained that there are stages to enforcing the Regional Regulation on KTR. First, they will follow up reports received with a reprimand, then monitor them closely for the next 14 days, and finally, if there is no change, will impose a fine. 

 

Source: https://www.radardepok.com/2021/09/54-retail-se-depok-terjaring-operasi-ktr 

 Gambar diambil dari Jobslike.id

Menurut studi Brand Footprint 2021, tiga brand dari PT Sayap Mas Utama (Wings Group) berhasil masuk ke dalam peringkat 20 besar Merek Terpilih di Indonesia tahun 2020. Tiga brand tersebut adalah So Klin, Mie Sedaap, dan Ekonomi. Kepala Departemen Public Relations Wings Group Gabriella da Silva menjelaskan, kunci utama yang dipegang perusahaan untuk dapat terus berkembang di tengah situasi pandemi adalah dengan melakukan berbagai adaptasi dan inovasi, salah satunya  dengan merilis berbagai produk baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

 

Sumber: https://industri.kontan.co.id/news/adaptasi-jadi-kunci-utama-wings-group-tetap-berkembang-di-tengah-pandemi  

 

   This image was taken from Flickr

According to the Ministry of Finance’s Director General of Customs and Excise Askolani, OTP excise revenue has declined due to decreased production. In the first semester of 2021, OTP excise revenue was only Rp298 billion, down 28% year-on-year (yoy), while tobacco products excise increased 21% yoy, despite decreased production. To help the cigarette and OTP industry businesses survive, the government issued Minister of Finance Regulation No. 93/PMK.04/2021 allowing a postponement of payments for excise stamps to no later than 90 days after ordering.

 

Source: Kontan.co.id, 4 Aug, 2021:

https://insight.kontan.co.id/news/setoran-cukai-rokok-elektrik-semester-i-2021-turun-28

 

Gambar diambil dari Wikimedia

Seiring kembali melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia, masyarakat pun kembali dibombardir dengan berbagai informasi tentang Covid-19 di internet dan media sosial. Namun sayangnya, masyarakat masih seringkali dihadapkan dengan informasi yang salah atau bahkan palsu yang bisa menambah kekhawatiran atau ketakutan bagi siapa saja yang langsung menelan informasi tersebut bulat-bulat.

Bagi kalian yang ingin membagikan informasi tentang Covid-19 di media sosial, yuk cek dulu beberapa tips berikut ini agar apa yang kalian bagikan menjadi manfaat bagi yang membacanya.

  • Lakukan double check

Sebelum membagikan suatu informasi ada baiknya untuk memeriksa kembali keabsahan informasi tersebut dengan mengetahui sumbernya, latar belakang penulis, dan tanggal pembuatan informasi. Selain itu, penting juga untuk melakukan verifikasi bukti pendukung dengan mencari nama ahli dan memeriksa tautannya.

  • Gunakan bahasa sederhana

Ketahui siapa target dari informasi yang akan kalian sebar. Jika mereka masyarakat awam, gunakanlah bahasa sederhana yang mudah dimengerti. Lebih baik lagi jika ditambahkan contoh visual agar pesan dari informasi tersebut semakin tersampaikan dengan baik.

  • Gunakan tonasi yang tepat

Di saat-saat seperti ini, suatu informasi bisa menjadi penyebab stres bagi sebagian orang. Bukannya tercerahkan, informasi tersebut malah membuat orang takut, cemas, dan tidak bisa tidur. Oleh karena itu, pilihlah tonasi yang netral atau lebih baik lagi tonasi yang positif. Hindari keinginan untuk sengaja menakut-nakuti.

  • Hindari provokasi

Jika kalian tidak sependapat atau tidak setuju dengan suatu informasi, hindari menuliskan atau membagikan informasi yang bersifat memprovokasi yang bisa menimbulkan perdebatan atau kebencian. Ingat, jejak digital akan selalu ada dan bisa menjadi bumerang bagi kalian suatu saat.

Itulah beberapa tips yang bisa Anda pertimbangkan sebelum membagikan informasi tentang Covid-19. Semoga bermanfaat dan kita bisa labih bijak lagi dalam membagikan sebuah informasi. Stay safe, stay healthy!