Gambar diambil dari Wikimedia

Seiring kembali melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia, masyarakat pun kembali dibombardir dengan berbagai informasi tentang Covid-19 di internet dan media sosial. Namun sayangnya, masyarakat masih seringkali dihadapkan dengan informasi yang salah atau bahkan palsu yang bisa menambah kekhawatiran atau ketakutan bagi siapa saja yang langsung menelan informasi tersebut bulat-bulat.

Bagi kalian yang ingin membagikan informasi tentang Covid-19 di media sosial, yuk cek dulu beberapa tips berikut ini agar apa yang kalian bagikan menjadi manfaat bagi yang membacanya.

  • Lakukan double check

Sebelum membagikan suatu informasi ada baiknya untuk memeriksa kembali keabsahan informasi tersebut dengan mengetahui sumbernya, latar belakang penulis, dan tanggal pembuatan informasi. Selain itu, penting juga untuk melakukan verifikasi bukti pendukung dengan mencari nama ahli dan memeriksa tautannya.

  • Gunakan bahasa sederhana

Ketahui siapa target dari informasi yang akan kalian sebar. Jika mereka masyarakat awam, gunakanlah bahasa sederhana yang mudah dimengerti. Lebih baik lagi jika ditambahkan contoh visual agar pesan dari informasi tersebut semakin tersampaikan dengan baik.

  • Gunakan tonasi yang tepat

Di saat-saat seperti ini, suatu informasi bisa menjadi penyebab stres bagi sebagian orang. Bukannya tercerahkan, informasi tersebut malah membuat orang takut, cemas, dan tidak bisa tidur. Oleh karena itu, pilihlah tonasi yang netral atau lebih baik lagi tonasi yang positif. Hindari keinginan untuk sengaja menakut-nakuti.

  • Hindari provokasi

Jika kalian tidak sependapat atau tidak setuju dengan suatu informasi, hindari menuliskan atau membagikan informasi yang bersifat memprovokasi yang bisa menimbulkan perdebatan atau kebencian. Ingat, jejak digital akan selalu ada dan bisa menjadi bumerang bagi kalian suatu saat.

Itulah beberapa tips yang bisa Anda pertimbangkan sebelum membagikan informasi tentang Covid-19. Semoga bermanfaat dan kita bisa labih bijak lagi dalam membagikan sebuah informasi. Stay safe, stay healthy!

 

   This image was taken from Flickr

Following PT Nojorono Tobacco International’s (NTI) move, Korea Tomorrow and Global Corporation (KT&G) produce cigarettes under a number of brands, including Carnival and Esse, have decided to reduce their production. This year, these two are Tier 2 manufacturers, after previously being Tier 1.

Capital market analyst and Founder & CEO of Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto said that the decline in production by Nojorono and KT&G was part of the company decisions to manage increasing costs and profit margins by selling products in line with the increase in average excise tariffs of 12.5 percent last February. According to Fendi, the wide difference in excise tariffs provides an option for cigarette manufacturers to be included in Tier 1 or below.

Policy Analyst at Ministry of Finance’s Fiscal Policy Agency, Wawan Juswanto, admitted that based on existing data, cigarette production in Tier 1 is tending to decline. On the other hand, Tier 2 and 3 cigarette production saw growth. As a result, the market share of Tier 1 cigarettes fell and the market share for Tier 2 and 3 cigarettes rose. “This shows a shift from expensive to cheap cigarettes,” concluded Wawan
.

Source: Bisnis.com, Apr 8, 2021:

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210408/257/1378328/korea-tomorrow-global-corporation-turunkan-produksi-rokok

 

Gambar diambil dari Pinterest

Sebuah komunikasi yang baik tentu harus dibangun dengan penuh perhatian melalui berbagai media. Di zaman sekarang ini, persahabatan dan silaturahmi tidak hanya mengandalkan tatap muka saja, tapi juga melalui telepon, WhatsApp, Facebook, bahkan Instragram. Pada dasarnya, komunikasi di dalam perusahaan memiliki prinsip yang sama.

Majalah internal atau internal magazine merupakan salah satu saluran komunikasi perusahaan. Sebagai konsultan komunikasi, PT Alaksir Cipta Aksara memiliki cara-cara jitu untuk membantu klien mengembangkan majalah internal perusahaan yang berkualitas.

Memahami fungsi serta karakteristik majalah internal, Alaksir telah berhasil membantu klien mendapatkan penghargaan di ajang InMA Awards selama tujuh tahun berturut-turut. Bukan hanya kebanggaan, hal tersebut juga membantu meningkatkan kepercayaan para pembaca terhadap majalah itu sendiri.

Ingin tahu caranya? Simak tips berikut:

  1. Konten

Kebanyakan majalah internal perusahaan terjebak pada fokus penyampaian arahan dari manajemen. Hal tersebut membuat artikel atau kontennya menjadi terkesan top down.

Perlu diingat bahwa fungsi utama majalah internal perusahaan adalah menyampaikan informasi yang relevan dengan karyawan untuk membantu meningkatkan kinerja, tentunya dengan cara yang menghibur dan tidak kaku. Fungsi lain yang tidak kalah penting adalah sebagai wadah untuk memberikan apresiasi kepada para karyawan.

Itulah sebabnya artikel atau konten dalam majalah internal harus dikemas sedemikian rupa agar menjadi sebuah cerita yang menarik untuk dibaca.

  1. Gaya Bahasa

Majalah internal sebaiknya menggunakan bahasa yang fleksibel. Meski menggunakan tatanan bahasa formal, penggunaan jargon-jargon korporasi sebaiknya dihindari agar mudah untuk dipahami seluruh lapisan karyawan dan memberi kesan kasual.

Selain menjadikannya lebih personal, kesan kasual tersebut juga membuat majalah lebih asyik untuk dibaca, meskipun topik yang dibahas merupakan arahan dari manajemen.

  1. Desain & Layout

Penataan tulisan dan gambar dalam majalah internal adalah sesuatu yang terus mengikuti perkembangan zaman. Majalah juga perlu mengadopsi tren desain yang sedang booming. Contohnya, infografik.  

This image was taken from Wikimedia

Customs and Excise continue to play an active role in optimizing the use of tobacco product excise revenue sharing funds (DBHCHT) in several regions of Java. One of these efforts involves encouraging the establishment of Tobacco Products Industrial Zones (KIHT).

On Tuesday (23/2), Kudus Customs and Excise received a study visit from the East Java Provincial Government who wanted to witness first-hand the conditions at and management of the Kudus KIHT.

Head of the Department of Industry and Trade Office of East Java Province, Drajat Irawan is confident that East Java would be able to develop a KIHT to support and boost the tobacco products industry, as well as facilitate small tobacco products companies to produce cigarettes legally.

Head of the Central Java Customs and Excise Regional Office, Padmoyo Tri Wikanto, said that his team expects that usage of the 2021 DBHCHT budget would be in line with the prevailing regulations for each program. He hoped that the related law enforcement measures, which includes the eradication of illegal cigarettes, dissemination of information, and construction of the KIHT, would be implemented optimally.

Head of the Kudus Customs and Excise Office, Wicaksono, said that his team would be stationed at the Kudus KIHT to provide services and supervision.

Source: Jpnn.com, Mar 8, 2021:

https://www.jpnn.com/news/bea-cukai-dukung-pembentukan-kiht

                                                                                       

Gambar diambil dari Wikimedia

Perkembangan teknologi ponsel cerdas yang pesat di satu dekade pertama milenium ketiga mendorong lahirnya berbagai aplikasi untuk mendukung penggunaan ponsel cerdas itu sendiri. Instagram salah satunya. Diluncurkan pertama kali pada 6 Oktober 2010, Instagram (IG) kini menjadi salah satu aplikasi ponsel cerdas dengan pengguna aktif bulanan mencapai 1 miliar di seluruh dunia.

Dilansir dari Kompas.com, hingga akhir November 2019, pengguna aktif bulanan Instagram di Indonesia telah mencapai 61,6 juta. Di awal kemunculannya, Instagram mungkin hanya digunakan oleh penggunanya sebagai album digital dari foto-foto yang diambil dari ponsel cerdas mereka. Namun, kini penggunaan Instagram tidak hanya menjadi sarana media sosial untuk terhubung dengan orang yang kita ikuti dan orang-orang yang mengikuti kita. Dengan fitur yang semakin canggih, Instagram kini juga memungkinkan penggunanya untuk berbagi foto dan video dan mengumpulkan cuan dengan mempromosikan bisnisnya.

Tidak cukup dengan foto atau video yang menarik saja. Ada satu hal penting lain yang bisa meningkatkan engagement dari postingan di Instagram, yakni caption. Banyak dari kita yang masih suka bingung mau menulis caption apa untuk foto atau video yang ingin kita posting. Berikut beberapa tips menulis caption agar lebih menarik seperti yang dikutip dari postingan IG @narasi.ecosystem.

 

  • Singkat tapi paten

Tidak perlu menulis caption yang panjang, cukup yang singkat, padat dan jelas karena biasanya orang ingin langsung tahu apa yang dibicarakan.

  • Lebih mengajak

Keterlibatan audiens dalam sebuah postingan dapat meningkatkan engagement. Jadi, semakin banyak yang komen, semakin besar juga kemungkinan postingan kita masuk tab explore orang lain.

  • Mainkan ekspektasi atau emosional

Jika ingin membuat caption yang panjang, pastikan kita membuat plot twist di akhirnya. Karena dengan begitu, orang akan menikmati setiap caption yang kita buat.

  • Ciri khas

Caption yang menarik adalah yang memiliki ciri khas. Cukup menjadi diri kita sendiri dan tuangkan ide yang kita punya sebagai ciri khas kita.

Itulah beberapa tips untuk membuat caption agar lebih menarik yang bisa dicoba mulai sekarang. Jangan ragu dan percaya diri adalah kunci, tapi tetap perhatikan tutur kata yang santun, ya. Selamat mencoba!

Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2019/12/23/14020057/sebanyak-inikah-jumlah-pengguna-instagram-di-indonesia

This image was taken from pixabay

The increasing number of buildings being built in big cities has caused several groups to question these buildings’ environmental and social impacts. The truth is that conventional buildings use a lot of energy, produce much waste, and emit greenhouse gases that negatively impact public health and the sustainability of the environment. Considering the negative impact of these buildings, beginning in the 1990s with the founding of the US Green Building Council in 1993, the rising trend within the international community is to turn to green construction. In essence, green construction is a building construction model that aims to eliminate or reduce the negative impact buildings have on the environment in the design phase, during construction, and when the building is fully operational.

Green construction involves using materials that do not damage the environment, construction processes that use leftover building materials, and construction methods that do not result in waste or emissions above the tolerance level threshold. In addition to employing design and building construction processes focusing on efficiency and mitigating the environmental impact, the purpose of green construction is to create green buildings that are cost-effective to operate. Several technologies used in green buildings include solar panels and wind energy sources, under floor radiant cooling systems to reduce air conditioning consumption and passive ventilation systems that supply air to and remove air from the building without using a mechanical system. These technologies make it possible to significantly reduce building operational and maintenance costs in the long term.

Based on a SmartMarket report in 2016, the number of green buildings worldwide continues to double every three years, and their popularity continues to increase. Thus, it has become clear green building not only reduces a building’s negative impact on the environment but also is more profitable. In the future, construction sector companies using the green construction concept to build green buildings will reap a double benefit by contributing to environmental sustainability and generating greater profits.

Gambar diambil dari thenounproject

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata ‘2020’? Ya, mungkin kita semua memiliki pemikiran yang sama tentang tahun yang ‘spesial’ itu. Pandemi Covid-19 membuat kita tak lagi bisa menjalankan kebiasaan hidup yang lama. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita pun harus cepat beradaptasi dengan kebiasaan hidup yang baru. Tidak hanya dari kebiasaan dari sisi kesehatan, tetapi juga kebiasaan bekerja bagi kita yang selama ini bekerja di kantor.

Peraturan pemerintah yang mewajibkan perkantoran menerapkan Work from Home (WFH) bagi karyawannya di awal pandemi mungkin membuat kebanyakan orang kaget dan tidak siap. Meskipun sudah satu tahun berlalu dan WFH tidak lagi menjadi hal yang baru, mungkin beberapa dari kita masih ada yang gagap dengan etika berkomunikasi saat konferensi/rapat video melalui aplikasi WhatsApp, Zoom, dsb .

Berikut, kami rangkum beberapa etika berkomunikasi saat konferensi/rapat video seperti yang dilansir dari Ultraindonesia.com.

  • Tetap menggunakan baju kerja

Sebelum mulai, pastikan untuk menggunakan baju selayaknya kita sedang bekerja di kantor.

  • Menggunakan mode tanpa video dan tanpa suara jika sebagai peserta

Apabila kita hanya bertindak sebagai peserta, lebih baik untuk menggunakan mode tanpa video dan tanpa suara untuk menjaga fokus konferensi/rapat.

  • Melambaikan tangan bila ingin bertanya

Jika ada yang kurang jelas atau ingin ditanyakan, kita bisa melambaikan tangan untuk memberikan tanda dan menyampaikannya saat sudah diberi kesempatan untuk berbicara.

  • Berdiskusi melalui Chat Box

Jika ada yang ingin didiskusikan tanpa mengganggu jalannya konferensi/rapat, kita bisa menggunakan Chat Box.

Demikian beberapa etika yang bisa kita terapkan agar konferensi/rapat video saat WFH berjalan dengan lancar dan materi yang didiskusikan bisa tersampaikan dengan baik. Semoga bermanfaat!

This image was taken from Flickr

Finance Minister Sri Mulyani Indrawati announced that the government will increase cigarette excise tariffs by 12.5% on average from February 2021, based on several aspects and considerations. She explained that excise on SPM (Machine-Made White Cigarettes) for SPM Tier 1 will increase 18.4% to Rp 935 each, SPM IIA will increase 16.5% to Rp 565 each, and SPM IIIB will increase 18.1% to Rp 555 each. There will also be a SKM (machine-made kretek cigarettes) Tier I increase of 16.9% to Rp 865 each, SKM Tier IIA increase of 13.8% to Rp 535 each, and SKM IIIB increase of 15.4% to Rp 525 each.

Sri Mulyani explained that the increase was decided by the average production volume for each tier. She explained that the SKT segment will not see any increase because this segment absorbs the most manpower. She added that after the increase, the estimated cigarette production growth for SKM and SPM will decrease by around 3.2 percent or 288 billion cigarettes. Furthermore, the government expects the prevalence of child smokers to fall 1.26 percent, from 33.8 percent in 2020 to 32.2 percent in 2021.

Source: Merdeka.com, Jan 27, 2021:

https://www.merdeka.com/uang/ini-tarif-baru-cukai-rokok-untuk-2021-mulai-berlaku-februari.html

The image was taken from Wikimedia

The Energy and Mineral Resources Ministry (ESDM) has stated that national fuel oil consumption this year is projected to be 75.27 million kiloliters (kl) to include the national consumption of diesel fuel, kerosene, and fuel oil. The government will provide 26.3 million kl of subsidized fuel oil.

Last year’s national fuel oil consumption was only 63.96 million kl, consisting of 14.39 million kl of kerosene and diesel fuel, 8.44 million kl of subsidized Pertamina Premium fuel oil, and 41.13 million kl of non-subsidized fuel oil. This figure excludes the consumption of biodiesel or Fatty Acid Methyl Esters (FAME) of 8.45 million kl. 

 

Source: CNBCIndonesia.com, January 18, 2021: https://www.cnbcindonesia.com/news/20210118145852-4-216880/konsumsi-bbm-ri-di-2021-diperkirakan-naik-ke-7527-juta-kl

This image was taken from Wikimedia

The government is determined to improve the investment climate in the country’s upstream oil and gas sector in a bid to entice fresh investment and boost production. Director General of Oil and Gas at the Ministry of Energy and Mineral Resources Tutuka Ariadji said that the various incentives prepared by the government are expected to help bolster the upstream investment climate. Tutuka said the government is very eager to establish a better oil and gas investment climate and has prepared various kinds of incentives expected to meet the needs of investors.

These incentives include investment credit, accelerated depreciation, attractive tax facilities, value added tax exemption, and a streamlined licensing process. Tutuka also said that the government is open to stakeholders participating in discussing regulations to improve the results, while adding that all these efforts aim to find a win-win solution so that the oil and gas contractors can “invest comfortably” in the country.

He also said that opening up oil and gas data through a membership system is also expected to help accelerate investment in the upstream sector. The government and upstream oil and gas authority SKK Migas have set an ambitious target for the country’s oil and gas production to jump to 1 million bopd and gas output to 12 bscfd by 2030.